Hak Allah Azawajalla dan hak hamba-Nya
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ.
Gandrungmangu – Suasana santai penuh kekeluargaan mewarnai kegiatan kajian rutin yang diselenggarakan oleh Masjid Baitul Makmur PRM Gandrungmangu pada Kamis malam Jumat (12/06), ba'da salat Maghrib. Kajian yang diampu oleh beliau KH. Muh. Abduh ini diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari pemuda hingga orang tua.
Kajian rutin tersebut merupakan salah satu program pembinaan keislaman yang secara istiqamah dilaksanakan dua kali dalam sepekan, yakni setiap Senin malam Selasa dan Kamis malam Jumat. Kegiatan dimulai setelah salat Maghrib dan berlangsung hingga menjelang salat Isya.
Pada kajian malam ini, KH. Muh. Abduh menyampaikan dan mengkaji sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, yang termasuk hadis agung tentang hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba atas Allah.
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه قَالَ:كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى حِمَارٍ، فَقَالَ:«يَا مُعَاذُ، أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟»قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.قَالَ:«فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا».
Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
"Aku pernah dibonceng oleh Nabi ﷺ di atas seekor keledai, lalu beliau bersabda:
'Wahai Mu'adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan apa hak hamba-hamba atas Allah?'
Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.'
Beliau bersabda:
'Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan hak hamba atas Allah adalah bahwa Dia tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.'
Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?'
Beliau bersabda:
'Jangan engkau kabarkan kepada mereka, karena nanti mereka akan bersandar (hanya kepada itu).'"
(HR. Sahih al-Bukhari no. 2856 dan Sahih Muslim no. 30)
Hadis ini menegaskan dua prinsip besar:
1. Hak Allah atas hamba-Nya
- Beribadah hanya kepada Allah.
- Tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun (tauhid).
Ini sejalan dengan firman Allah:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
2. Hak hamba atas Allah
- Allah berjanji tidak akan mengazab orang yang meninggal dalam keadaan bertauhid dan tidak berbuat syirik.
Namun, para ulama menjelaskan bahwa hak hamba atas Allah ini bukan hak yang memaksa Allah, melainkan hak yang Allah tetapkan atas diri-Nya sendiri sebagai bentuk rahmat dan janji-Nya.
Pelajaran Penting dari Hadis Ini
- Tauhid adalah kewajiban terbesar seorang muslim.
- Syirik adalah dosa terbesar.
- Keselamatan di akhirat bergantung pada kemurnian tauhid.
- Seorang muslim tidak boleh hanya mengandalkan status sebagai orang bertauhid, tetapi tetap harus beramal saleh dan menjauhi maksiat.
Dalam pemaparannya, KH. Muh. Abduh menegaskan bahwa hadis tersebut mengandung pelajaran mendasar tentang pentingnya tauhid sebagai inti ajaran Islam. Seorang muslim memiliki kewajiban untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Sebaliknya, Allah Yang Maha Pengasih telah menjanjikan rahmat-Nya kepada hamba-hamba yang menjaga kemurnian tauhidnya.
Melalui kajian rutin ini, diharapkan jamaah semakin memahami hakikat penghambaan kepada Allah, memperkokoh akidah, serta mampu mengamalkan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Kajian berlangsung hingga menjelang salat Isya, para jamaah tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.



